Kampung Jawa di Victoria Park
Hampir semua orang Indonesia tahu, mengenal bahkan mengerti di mana dan bagaimanakah Victoria park itu. Tempat berkumpulnya ribuan orang –orang Indonesia pada hari minggu ataupun pada hari biasa. Apabila kita datang ke Victoria, maka ibarat kita datang ke kampung halaman kita sendiri. Maka tak heran apabila Victoria park mendapat julukan Kampung Jawa di Hong Kong. Victoria park, taman ini telah menyimpan berjuta kisah perjalanan sebagian teman-teman dari Indonesia pada saat berada di Hong Kong.
Sepintas, Victoria park hanyalah hamparan tanah lapang yang berukuran dua kali lebih besar dari lapangan sepak bola dengan hamparan rumput hijau yang menghiasinya. Tidak ada kesan special yang akan membuat anda tidak bakalan melupakan tempat yang satu ini. Namun, pandangan kita agar segera berbalik180 derajat apabila kita datang pada hari minggu, saat berliburnya Domestic Helper Indonesia.
“Pernah ke Victoria Park, belon? “Wah....pertanyaannya kok gitu, seh!,” ujar Ndari Domestic Helper Indonesia asal Selopuro, Blitar. “orang Indonesia kuper (kurang pergaulan-red) aja yang belum pernah ke Victoria Park.” lanjutnya sambil ngeloyor pergi bersama dua orang temannya yang menenteng makanan dalam tas plastik warna biru. Pernyataan Ndari tersebut sebagai pertanda bahwa Victoria Park bukan tempat yang asing lagi bagi Domestic Helper asal Indonesia. Apalagi letaknya yang strategis di jantung kota. Karena setiap minggu atau hari libur resmi, hampir seluruh Domestic Helper Indonesia ‘tumplek blek’ mendatangi tempat itu.
Ketika hari Minggu tiba, lapangan luas itu akan segera berubah menjadi lautan manusia. Dan yang paling unik dan mengasikkan karena hampir semua yang duduk di lapangan tersebut adalah orang Indonesia. Menakjubkan bahkan luar biasa sekali. Saat anda melangkahkan kaki masuk ke dalam lapangan, anda akan segera merasakan aura Indonesia yang begitu kental. Mulai dari percakapan, dan tentu saja orang-orang yang berkeliaran, semuanya orang Indonesia. Seandainya boleh di berikan sebutan, inilah Victoria Park, kampung Jawa di Hong Kong. Sungguh, secara otomatis victoria park adalah satu tempat yang sudah di nobatkan menjadi kampung orang Indonesia di Hong Kong.
Kebanyakan dari mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah maupun yang berasal dari Luar pulau Jawa seperti Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Tidaklah terlalu sulit untuk mengetahui dari mana mereka berasal. Karena dari logat dan gaya bicaranya saja, kita bisa langsung mengetahui mereka dari pulau Jawa atau bukan. Unik memang, apabila kita mengamati tingkah polah Domestic Helper Indonesia pada hari Minggu. Bahkan, bisa-bisa Anda akan berdecak kagum tatkala melihat mereka dengan berbagai aktivitasnya.
Tempat penyaluran Hobby dan Bakat
Di lokasi tersebut dapat kita saksikan beragam acara yang mereka gelar. Dari yang sekedar ‘kongkow-kongkow’ sambil dengerin musik, sampai dengan yang menggelar acara yang sifatnya ceremony seperti; diskusi, tabligh akbar, atau digunakan sebagai tempat latihan latihan guitar dan tari. Tak jarang juga kita lihat permainan yang atraktif yang layaknya bisa kita saksikan di diskotik. Mereka ‘nyetel’ musik kenceng-kenceng sambil berjoged meliuk-liukan badan ‘ala’ Britney Spears. “Kok pinggulnya enggak coklek, ya?, Kalau enyong wis keseleo” komentar Umi nakerwan asal Banyumas, Jawa Tengah dengan logat banyumasan. Umi sedari tadi memang menyaksikan pertunjukan tersebut sambil sekali-kali kakinya ikut bergoyang mengikuti ritme irama musik tersebut.
Sedangkan, tak jauh dari tempat tersebut, kira-kira lima belas meter di pojokan lapangan Victoria sekumpulan wanita berjilbab yang beralaskan tikar plastik sedang sibuk melakukan aktifitas keagamaan. Ada yang belajar hadroh, bernyanyi lagu islami, dan ada juga yang berdhzikir mengagungkan asma Allah SWT. Sementara itu di tengah-tengah lapangan tampak sekelompok Domestic Helper Indonesia sedang berlatih menari dengan di iringi music yang super kerasnya. Mereka tidak mempedulikan adanya beberapa orang asing yang sampai terbengong-bengong melihat keunikan mereka menarikan tarian traditional. Tetapi selain berbagai kesibukan yang terlihat, tampak juga beberapa di antara mereka yang sedang tidur di atas plastik putih di tengah lapangan dengan wajah yang di tutup dengan sehelai koran, kelihatan lelap sekali.
Berbagai macam aktivitas bisa kita temui di Victoria park, sebagai tempat tertumpahnya berbagai hobby yang hanya dapat di salurkan pada hari minggu. Dengan keteguhan hati, mereka berusaha untuk menyalurkan bakat yang mereka punyai dengan memanfaatkan waktu yang ada. Walaupun sarana latihan dan fasilitas yang ada sangat terbatas namun kegiatan mereka sanggup memberikan kepuasan kepada mereka sendiri. Sungguh, sebuah perjuangan yang pantas untuk di acungin jempol.
Berburu Rejeki Di Victoria
“Nasi Mbak…, kartu telpon…, majalah…” sebuah suara melengking di antara keramaian Victoria. Dan tampaklah wanita setengah baya dengan menenteng ‘kresek’ besar di tangannya dengan tas besar di punggungnya. Tampak dia berjalan berkeliling menjajakan barang dagangannya. Kemudian terlihat seorang gadis melambaikan tangannya ke arah perempuan tersebut. “Nasi Mbak…!!!.”
“Yang berapaan…,” jawabnya sambil berjongkok. Setelah menemukan pilihannya, gadis itu segera mengulurkan uang duapuluh dolar. berlalu, “Nasi…, nasi…, kartu Mbak, Majalahe…”
Ternyata, bukan hanya perempuan itu saja yang sibuk menjajakan dagangannya. di tengah-tengah lapangan Victoria seorang laki-laki sedang di kerumuni beberapa orang yang ingin membeli baju. Oh… ternyata dia sedang jualan baju. Dan tampak pula beberapa perempuan juga hilir mudik sambil berusaha menjajakan dagangannya.
Berbagai hal di ataslah, yang membuat Victoria park di sebut sebagai kampung Indonesia. Kita bisa menemukan apapun di sana. Masyarakat Indonesia, dengan berbagai tradisi dan kegiatan yang berbeda. Mulai dari yang hanya memanfaatkan Victoria sebagai tempat berlibur, sebagai tempat menyalurkan hoby, bahkan ada yang menggunakan Victoria untuk berburu rejeki mulai dari jualan rujak sampai jualan kartu. Hal itulah yang memperkuat julukan kampung Indonesia di Victoria.
Victoria Park adalah tempat yang menyenangkan untuk sebagian besar orang, namun juga merupakan tempat yang menyebalkan bagi orang lainnya. Alasannya pun berbeda-beda, mulai dari karena di sana bisa mendapatkan apapun yang di inginkan dan juga karena lokasi yang selalu penuh dengan orang Indonesia pada hari minggu. “kalau bisa, hari minggu itu saya nggak usah dech menginjakkan kaki di Victoria. Terlalu padet. Dan ramai sekali. Dan susah deh untuk di jelaskan kenapa saya enggak suka pergi ke sana…” ungkap seorang yang tak mau di sebutkan namanya. Menyingkapi pernyataan di atas, suka atau tidak Anda dengan keberadaan Victoria, kita semuanya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena memang seperti itulah keadaanya. Berfikir yang positive mungkin akan lebih membuat anda tentram di hongkong, dengan mengakui dan besyukur akan keberadaan satu tempat untuk Domestic Helper Indonesia di Hong Kong, itulah Victoria. (RoseMawar Magazine, Arie & Raka Swasana)
Step by Step di Victoria Park
Victoria Park menurut Dwi Astutik Domestic Helper asal Ponorogo, merupakan sebuah inspirasi. Bukan hanya sekedar tempat untuk beristirah atau tempat rekreasi ketika mendapatkan libur pada hari minggu. Tetapi menjadi tempat untuk menampung aspirasi. Lho, kok? “Iya sebagai tempat menampung aspirasi bagi organisasi Domestic Helper Indonesia.” kata perempuan yang bulan Maret ini merayakan ulang tahunnya.
Bagi Dwi yang semasa kuliah di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang atas biaya sendiri dengan bekerja menjadi SPG ini menuturkan, Victoria Park sudah menjadi bagian kehidupan para Domestic Helper Indonesia. Karena disana berkumpul banyak karakter dari yang suka pengajian, berjoged, maupun beraktifitas lain.
Menurutnya, Victoria Park bisa dijadikan tempat untuk kegiatan yang positif. Baik untuk membantu teman yang sedang mengalami masalah ketenagakerjaan maupun masalah lain. Sehingga dengan kondisi seperti ini organisasi-organisasi Domestic Helper Indonesia, baik yang bergerak dibidang da’wah maupun di bidang advokasi yang ada di Hong Kong, dapat menampung aspirasi bagi mereka yang memerlukan. Bagi organiasi yang bergerak dibidang da’wah, harus senantiasa memberikan pemahaman kepada yang belum memahami. Artinya, da’wah harus menyentuh hati sesorang tanpa melihat latar belakang, baik mereka yang sudah maupun yang belum berjilbab. Sehingga da’wah dapat dinikmati oleh banyak kalangan sekaligus mereka yang membutuhkan dan tidak eksklusif. Menurut Dwi, pernah suatu ketika dia dengan beberapa temannya melakukan gerakan da’wah dengan melakukan gaya step by step. Gerakan da’wah tersebut dengan melakukan pendekatan personal di Victoria Park. “Pertama dengan curhat, begitu sudah mengetahui persoalnnya, lantas memberikan solusinya yang baik dan menyejukkan” ujarnya lebih lanjut. Karena itu, dia menyarankan agar kita mempunyai filter, agar dapat menyaring setiap budaya negatif yang senantiasa akan merugikan kita. (RoseMawar Magazine, Raka Swasana)